Mengenali Beberapa Gejala si Kecil Mengalami Pelecehan Seksual

watch_later Sabtu, 31 Mei 2014







Kasus pelecehan seksual anak di bawah umur yang baru-baru ini terjadi di Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia, tak ayal membuat segenap orangtua jadi was-was dan waspada.  Saat postingan ini diunggah, kasus baru kembali  terkuak di Tegal. Seorang buruh melakukan perbuatan nista terhadap 6 orang anak laki2 usia SMP dan seorang oknum guru SD melakukan  hal yang sama terhadap 3 orang murid perempuannya yang masih duduk di kelas 1 SD.  Jumlah korban bisa saja masih bersifat sementara seperti halnya pada beberapa kejadian sebelumnya. Alhasil, pikiran menjadi bercabang-cabang memikirkan keselamatan anak dan cara melindungi terbaik seperti apa untuk si kecil.
Berangkat dari keprihatinan yang dalam atas kejadian tsb, saya postingkan rangkuman  beberapa tulisan dari sumber informasi di internet yang sepatutnya diketahui oleh semua orang tua.

Berikut ini adalah uraian mengenai perubahan perilaku anak dan tanda fisik pada anak yang menjadi korban pelecehan seksual:

1. Perubahan perilaku
Tidak sedikit anak yang takut dan ragu-ragu untuk memberitahu orangtua ketika mereka mengalami kekerasan seksual. Namun sebenarnya, orangtua bisa mengamati dari polah dan perilaku anak sehari-hari.
Nah, beberapa perubahan sikap yang mengindikasikan si kecil mengalami kekerasan seksual, di antaranya adalah semangat ke sekolah tiba-tiba berubah menjadi rasa malas dan cenderung takut, penurunan prestasi sekolah, selalu merasa bersalah, dan menarik diri dari teman-temannya. Pada beberapa kasus, anak menunjukkan sikap lebih agresif dibanding sebelumnya.

Kemudian, perubahan psikis lainnya adalah bertingkah lebih manja dan semakin kekanak-kanakan, seperti misalnya menghisap jempol, sering mengompol, takut gelap, dan mimpi buruk sambil berteriak-teriak.
Selain itu, jangan luput untuk memeriksa kondisi fisik anak. Sebab, dampak nyata dari pelecehan seksual pastinya meninggalkan jejak pada tubuh anak. Ketika anak mengeluh sakit secara fisik, apalagi di area tubuh intim mereka, jangan sesekali Anda menghiraukannya, segera bertindak dan periksa anak ke dokter!

2. Perhatikan tanda-tanda fisik
Seperti yang diuraikan di atas, bahwa tanda-tanda fisik adalah dampak nyata yang tidak kasat mata. Meskipun begitu, tidak sedikit anak yang menutupi tanda-tanda kekerasan seksual pada tubuh, karena takut dan tidak nyaman untuk menjelaskannya.
Maka dari itu, para orangtua harus memerhatikan kondisi fisik anak sehingga saat ada perubahaan fisik yang tak normal supaya bisa segera terdeteksi.Tanda paling jelas dan akurat adalah ketika saat anak buang air kecil dan buang air besar, nyeri waktu BAK/BAB, ada tanda2 infeksi atau keluar cairan/darah dari alat kelaminnya maupun anusnya. Selain itu, cidera dan memar di sekitar kelamin juga merupakan tanda fisik nyata telah terjadinya kekerasan seksual pada anak. Perhatikan juga jika pergerakkan tubuhnya saat sedang duduk dan berjalan, apakah terlihat aneh dan ganjil.

3. Percaya pada naluri keibuan anda
Jika Anda curiga si kecil mengalami kekerasan seksual, coba perhatikan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Bisa jadi dia ingin mengatakannya pada Anda, tetapi takut, gugup, dan khawatir akan reaksi Anda. Intinya, dengarkan kata hati Anda, sebab naluri seorang ibu nyaris jarang keliru. Ajak anak bicara dengan tenang dan santai, berikan perhatikan lebih dengan menyediakan camilan favoritnya. Kondisi yang kondusif membuat anak jadi lebih mudah bercerita, lebih terbuka, dan yang paling penting merasa aman di dekat Anda.

Umumnya anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual mengalami perubahan pribadi yang drastis. Bila sebelumnya anak ceria, banyak bercerita, dan gemar bermain, mendadak menjadi lebih pendiam, tertutup, dan tidak percaya diri.


Jika ternyata benar bahwa anak telah menjadi korban pelecehan seksual, apa yang harus dilakukan oleh orangtua?
Anak yang menjadi korban pelecehan seksual umumnya menjadi lebih pendiam, pemurung, dan penakut. Bila orangtua mencurigai sesuatu terjadi pada anak, percayalah pada naluri anda dan coba tanyakan kepada si kecil dengan sikap yang tenang. Jangan menyudutkan, apalagi sampai mengancam anak. Melihat sikap orangtua yang tenang membuat anak merasa nyaman dan dilindungi sehingga lebih mudah bagi anak untuk menceritakan pengalaman terburuk dalam hidupnya tersebut. Ketika mendengar pengakuan anak yang menyesakkan hati, tahanlah air mata Anda, kuatkan pertahanan diri, dan segera peluk si kecil dengan segenap cinta.
Melihat orangtua yang menangis dan histeris bakal membuat anak terkejut dan ketakutan. Akhirnya, anak akan berhenti bercerita karena takut pada orangtua, jelas Nana lebih lanjut.

Walaupun hati dan jiwa anda terguncang mendengar penuturan menyedihkan si kecil, kendalikan diri Anda, jangan perlihatkan sikap terpukul tersebut kepada anak. Mengupayakan diri agar tetap tenang mendengar kenyataan yang getir memang bukan sesuatu yang mudah, tetapi demi anak, berusahalah lebih keras untuk tidak hancur depan mereka.

Pasalnya, melihat sikap orangtua yang tegar akan memberikan rasa aman kepada anak. Sikapi mimpi buruk anak tersebut seolah sedang mendengarnya bercerita mengenai tokoh kartun favoritnya atau superhero idolanya. Tujuannya agar orangtua memperoleh informasi secara lengkap dan mendetail.

Untuk mencegah anak menjadi korban pelecehan seksual, orangtua diharapkan jangan merasa tabu atau tidak pantas untuk mengenalkan bagian-bagian pribadi pada tubuh si kecil. Kemudian, uraikanlah dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti mengenai fungsinya masing-masing. Kemukakan juga reaksi yang terjadi apabila bagian tersebut disentuh atau dilukai oleh orang dewasa secara paksa. Cara ini akan membentuk sikap preventif dan batasan kepada anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya dan orang asing. (baca postingan tentang Underwear Rule)

Semoga manfaat...

Dr. Mohammad muchlis



sentiment_satisfied Emoticon