Underwear Rule : Upaya Pencegahan Kekerasan/Pelecehan Seksual pada Anak

watch_later Sabtu, 31 Mei 2014






Belakangan ini kita semua dikejutkan (lagi) dgn peristiwa pelecehan/kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh orang dewasa. Kejadian yg memiriskan hati ini terjadi di sebuah sekolah internasional di kawasan Jakarta Selatan. Banyak yang tidak menyangka karena lokasi kejadian berada di ligkungan sebuah sekolah internasional.

Sebenarnya kekerasan/pelecehan seksual terhadap anak seperti ini sudah beberapa kali terjadi di negeri ini. Cara gampang menelusurinya : buka portal berita online, cari berita ttg pelecehan seksual anak atau berita yg sejenisnya itu, lalu lihat dibawah berita tsb, ada banyak link yg berkaitan dengan topik yg serupa di berita tsb. Mengerikan, memiriskan hati setiap orang tua tentunya. Lalu apa yg sepantasnya kita ketahui untuk jangan sampai terjadi lagi kejadian demikian. Lalu apa yg sepantasnya kita ketahui untuk jangan sampai terjadi lagi kejadian demikian.

Berikut tulisan bagus di website berita Kompas yang dapat kita baca dan simak :

Underwear rule adalah pedoman sederhana untuk orangtua dalam membimbing anak mengenai aturan berkomunikasi, berinteraksi, dan bersentuhan dengan orang lain, terutama di luar keluarga inti. Aturan ini mengajarkan ketegasan atas prinsip dan nilai hidup kepada anak bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Tidak boleh ada orang lain yang menyentuh dan menyakitinya, tidak juga orangtua dan saudara kandung.
Seperti dikutip dari Council of Europe, berikut lima underwear rule yang wajib Anda ajarkan kepada sang buah hati tersayang:

1. Mengajarkan si kecil bahwa tubuh mereka harus dijaga dan dilindungi
Semenjak anak sudah bisa berkomunikasi dengan orangtua atau lingkungan sekitar, orangtua harus mengajarkan kepada anak mengenai nama anggota tubuh yang sebenarnya. Jelaskan kepada anak bahwa ada beberapa anggota tubuh yang merupakan bagian intim, yang sifatnya sangat pribadi, tidak boleh dilihat dan dipegang orang lain, kecuali untuk alasan medis. Usahakan untuk tidak memberikan julukan atau istilah samaran dalam mengajarkan bagian intim tubuh si kecil. Tujuannya supaya anak lebih memahami akan fungsi dan reaksi yang terjadi ketika bagian tersebut disentuh secara paksa atau terluka.
Mengajarkan soal seks kepada anak harus dilakukan lebih dari sekali dan berulang-ulang. Tujuannya agar anak langsung ingat ketika ada seseorang yang berusaha menyentuh di bagian tubuh yang tidak pantas dan segera bereaksi sesuai yang diajarkan.

2. Perbedaan sentuhan yang pantas dan tidak pantas dilakukan
Anak tidak selalu bisa membedakan bagaimana cara orang lain menyentuh mereka, apakah sentuhan tersebut wajar atau tidak. Tak hanya sentuhan, ajarkan kepada anak bahwa orang lain dilarang keras memandangi bagian tubuh mereka yang pribadi. Jika ada yang bersikap demikian, anak harus menegur atau melaporkan orang tersebut kepada guru di sekolah dan orangtua.
Selain itu, ajarkan hal yang sama kepada anak untuk tidak memandangi atau menyentuh bagian tubuh paling pribadi orang lain, entah itu teman, saudara kandung, orangtua, dan guru.

3. Perbedaan rahasia baik dan rahasia buruk
Salah satu strategi yang kerap kali dilakukan oleh pelaku pelecehan seksual adalah mengajak anak untuk bermain rahasia-rahasiaan. Sebab, terkadang dengan menyimpan rahasia orang lain membuat anak bersemangat dan merasa lebih istimewa.
Maka dari itu, sampaikan kepada anak bahwa tidak semua rahasia pantas disimpan, terutama rahasia yang membuat mereka tidak nyaman, ketakutan, sedih, dan tersiksa.

4. Mencegah dan melindungi adalah tanggung jawab orangtua
Ingat, keselamatan dan kebahagiaan anak adalah tanggung jawab orangtua, bukan guru atau kerabat lainnya. Maka dari itu, orangtua harus terdidik sebelum mendidik anak. Bagi sebagian orangtua, bicara soal seks kepada anak yang masih berusia balita, bahkan remaja, dianggap tabu dan tidak wajar. Padahal, selama cara Anda berkomunikasi berlandaskan edukasi, tentu anak akan menerimanya sesuai penalaran yang Anda sampaikan kepada mereka.
Jadikan komunikasi dengan terbuka sebagai tradisi dalam keluarga sehingga anak tidak pernah merasa sungkan dalam membicarakan dan membahas apa pun kepada orangtua.

5. Mengajarkan cara bereaksi terhadap tindakan mencurigakan
Terdapat empat panduan yang bisa Anda ajarkan kepada si kecil untuk bereaksi saat ada orang asing yang berperilaku tidak wajar kepada mereka. Uraiannya seperti berikut:

- Cara mencurigai dan melaporkan :
Beritahu kepada anak mengenai siapa saja orang yang bisa mereka percaya dalam keluarga dan sekolah. Jadi, ketika ada orang lain di luar daftar tersebut, anak patut merasa curiga dan mengomunikasikannya kepada orangtua atau guru di sekolah.

- Cara mengenali orang-orang mencurigakan di lingkungan anak :
Dalam kebanyakan kasus, pelaku adalah seseorang yang dikenal oleh anak. Tak heran bila kondisi ini menjadi sulit bagi anak untuk memahami bahwa apa yang dilakukan orang tersebut adalah bentuk penyiksaan. Untuk mengatasi hal ini, orangtua tidak boleh putus komunikasi dengan anak, pastikan setiap hari bertanya kepada anak apakah ada seseorang yang memberikannya hadiah atau memperlakukannya lebih dari biasanya.

- Cara mengamati orang-orang mencurigakan di luar lingkungan keluarga dan sekolah :
Dalam beberapa kasus pelecehan seksual, pelakunya adalah orang asing. Ajarkan aturan sederhana kepada anak tentang tata cara bersikap dan berbicara dengan orang asing. Beberapa di antaranya adalah menolak satu mobil dengan orang yang mereka tidak kenal, jangan menerima hadiah dari siapa pun kecuali keluarga dan teman, dan ajakan bermain di luar sekolah.

- Cara mencari pertolongan  :
Anak-anak harus tahu bahwa selain orangtua, ada orang profesional yang dapat membantu mereka bila ada orang lain yang berbuat tidak sopan kepada mereka, misalnya guru, polisi, pekerja sosial, dan psikolog sekolah.


Seorang teman psikolog di sebuah grup  kesehatan anak menambahi perihal ini berdasarkan pengalamannya :

Dari beberapa kasus serupa, waspada dengan reaksi kita sendiri (sebagai ortu) saat anak bercerita. Reaksi yg berlebihan (kaget berlebihan, langsung menyalahkan, atau malah menunjukkan ketidakpercayaan) kerap membuat anak 'enggan' melanjutlan cerita atau membuka diri. Ini yang memang sering sekali terjadi.  Jadi sebelum terlambat, pandai-pandailah beekomunikasi dengan anak2 kita.

Kemudian jangan pernah benar-benar  memisahkan diri dari lingkungan pergaulan anak. Pernah suatu hari, saya dapat pasien remaja SMA yang 'digilir' oleh 3 org teman yg dia kenal dari FB sampai hamil. Orang tua tidak pernah tahu anaknya keluar dgn siapa saja, dengan alasan "Saya pikir itu privasi anak saya yang tidak perlu saya ketahui...". Untuk kita ketahui, pemahaman semacam itu SALAH BESAR ! Kita perlu tahu teman2 anak kita siapa saja. Kenali tanda-tanda mencurigakan. Kita justru sangat perlu waspada jika dalam kelompok bermainnya sehari-hari ada temannya yang 'remaja' sendiri, atau istilahnya 'gede' sendiri. Memang tidak semua anak yang gede sendiri itu berniat buruk, tapi tidak ada salahnya untuk lebih tanggap mengenali identitasnya termasuk identitas teman-teman anak yang lain.

Jika anak sudah bersekolah, kenali orang-orang yang jadi warga sekolah (baik kepala sekolah, staff pengajar & administrasi, security, cleaning services, dll), termasuk membuat anak2 juga kenal dengan mereka. Jalin pertemanan dengan sesama orang tua, dan 'mengakrabkan diri'-lah dengan siswa2 lain. Percayalah, ikut berteman dengan teman2 anak itu tidak ada ruginya!
Salut dengan cara ortu korban pada kasus  di sekolah Internasional kemarin. Beliau kreatif sekali dalam menggali cerita anak.  Jadi, gali potensi diri kita.  Ingin anak kreatif, ortunya juga harus kreatif dong...


*Semoga manfaat, silahkan bila ada mau berbagi pendapat, saran atau pengalaman. Mudah2an dengan kita saling berbagi, kita makin bertambah wawasan dan pengetahuan kita, kita juga akan semakin bijak, semakin berperhatian dan tetap waspada akan hal2 buruk yang dapat terjadi pada anak2 kita. Salam...



sentiment_satisfied Emoticon