Bila Anak Mengumpat dengan "Kata-Kata Antik"

watch_later Senin, 24 Maret 2014


Di IGD sebuah RS seorang anak usia kelas 1 SD dengan didampingi ibunya sedang dilakukan insisi (pengeluaran nanah) bisul atau absesnya. Tangisnya keras menahan sakitnya, tapi sayang ia mengumpat-ngumpat dengan mengucap –maaf- isi kebon binatang (gak semuanya sih, yang tertentu itu saja lho).  Bisa jadi ibunya menahan marah dan malu karena umpatan anaknya tsb.

Seorang teman dokter anak berkisah yang lebih heboh lagi :  dirinya pernah selain ‘dijemberengin’ beberapa isi kebon bintang,  juga ditendang dan ‘diludahin’ pasiennya. ‘Cakep’  benar, ujar teman saya itu.

Teman yang lain –seorang psikolog- bercerita  seperti ini : ‘kemarin saya habis dimaki-maki dengan berbagai ungkapan kebun binatang dan ‘human anatomy’ oleh anak kelas 1 SMP.  Sebelumnya sudah ke psikiater, psikaternyapun mengalami hal yang sama. Kata ibunya anak tsb memang sudah begitu sejak kelas 1 SD. Teman saya yang psikolog itupun membatin : kok baru 6 tahun kemudiaan baru terbersit inisiatif untuk  ‘mengobati’ si anak. Pola asuh 13 tahun mau dibenahi dalam 1 x pertemuan, ya gak mungkin.  Memang sulap, curhatnya.

Lain lagi cerita dari seorang teman farmasi ketika ia kebetulan sedang ada di IGD sebuah RS besar :  suatu hari perawat2 dan dokter2 residen  di RS tsb terkena umpatan oleh seorang pasien kecilnya. Ketika dihampiri lebih dekat : pasien cilik itu masih berseragam TK. Miris dan kaget banget lihatnya, kata teman saya yang satu itu.

Dari 4 kejadian diatas  tadi,  apa yang bisa kita ambil pelajaran darinya.  Pertama  dan utama yang selayaknya disadari : ini adalah pengingatan kita semua. Bahwasanya lingkungan adalah guru yang paling cepat diserap pengajarannya oleh anak2 kita.  Adakah lingkungan disekitar anak kita telah ‘berhasil’ menambahkan perbendaharaan ‘kata2 antik’ bagi anak kita ?

Lingkungan terdekat dan sehari-hari yang ditemui anak2 adalah lingkungan keluarga inti : ayah ibunya, kakaknya,  mungkin juga kakek dan neneknya. Selanjutnya  adalah pengasuh anak, asisten rumah tangga dan supir ataupun tukang kebun. Di luar rumah anak2 akan bertemu dengan teman sebayanya, teman sekolahnya, tetangga rumah dan orang sekitar rumah lainnya. Begitu seterusnya anak akan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, melihatnya, mendengarnya dan bisa jadi menirunya.  Coba amati siapakah yang berperan jadi ‘guru’ untuk pelajaran "kata2 antik" tsb.

Lingkungan juga termasuk paparan oleh media : bagaimana dengan kebiasaan menonton tivi sang anak. Apakah tanpa kita sadari, anak ikut menonton tayangan tivi yang belum pantas ditontonnya.  Beberapa ibu malah nobar alias nonton sinetron dewasa bareng anaknya, begitu juga pengasuh anak di rumah. Semua tahu sinetron di tivi Indonesia belakangan kualitasnya menurun, jarang sekali sinetron yang mendidik.  Begitu juga acara hiburan lainnya spt variety show yang tayang di setiap sore.  Semua sama2 ‘anteng’ menyimak tayangan tivi tsb.  Anak2 khususnya  usia prasekolah akan meniru apa yang dilihat dan didengarnya, ternasuk kata2 kotor atau kasar yang cepat diserapnya.

Sebagai orang tua tentu tak bisa kita berdiam diri, memakluminya, namanya juga anak2, toh anak suatu saat akan pinter sendiiri, demikian ungkapan yang biasa kita dengar.
Beberapa langkah bijak yang bisa dilakukan orang tua antara lain (dikutip dari Kompas female 27 Oktober 2011) :

1. Awasi dan dampingi anak saat bermain :   ketika anak bermain dengan teman sebayanya, ia akan berinteraksi dengan lingkungan budaya setempat yang dalam beberapa hal sepertinya mentolerir beberapa umpatan kasar. Orang tua harus sabar dan telaten menjelaskan kepada anak bahwa kata kasar dan kotor itu tak pantas diucapkan.

2. Tak perlu marah :  orang tua hendaknya bersikap wajar dan tidak memarahi anak.  Tidak mendramatisasi keadaan. Bila kita marah malah akan membingungkan anak dan menjadi tidak efektif mencegah anak untuk tidak mengulanginya lagi. Ada beberapa kasus, anak yang kurang perhatian justru akan mengulangi hal yang tidak disukai orang tuanya tsb. Dimarahi orang tuanya  menjadi salah satu bentuk perhatian anak.

3. Jelaskan arti kata kasar/kotor tsb : orang tua menggali pemahaman anak mengenai mengenai kata tsb dan mencari tahu alasan ia melontarkannya, lalu meluruskan ucapan atau perilaku yang tak pantas tsb.

4. Bimbing dan arahkan : jangan mudah menyerah jika anak sudah dinasehati berulang kali tapi masih terus mengucapkan kata2 yang tak pantas itu, tugas ortu adalah membimbing dan mengarahkan anak terus menerus.

5. Buat kesepakatan : bila anak masih saja demikian, meski sudah dinasehati berulang kali, buatlah kesepakatan. Berikan hukuman yang disepakati bersama, namun jangan memberikan hukuman fisik.  Para ahli psikologi menyarakan bentuk hukuman untuk anak usia pra sekolah berupa time out.  Anak diminta duduk diam di pojok ruangan selama 3 menit dan tegaskan kalau kita tidak mau berbicara dengannya selama 3 menit.

6. Jeli cari penyebabnya :  coba mencari tahu penyebab anak senang menggunakan kata kasar dan jorok. Apakah ada yang tertawa geli ketika anak mengucapkan kata kasar/kotor. Bila memang demikian, berikan pengertian pada orang rumah atau siapa saja untuk tidak memberikan respon positif bila anak berucap demikian.

Last but not least : pada akhirnya kita harus bercermin sebagai orang tua. Bagaimana kita mengharapkan anak tidak berucap atau mengumpat yang tak pantas, bila ayahnya sendiri akan mengumpat kasar di jalanan ketika ada pengendara lain yang mengganggu laju kendaraan yang disupirinya. Atau ibu yang masih suka bikin status di sosmed, bercurhat tapi sambil mengumpat di dengan kata2 yang tidak pantas, menyebutkan nama spesies hewan tertentu atau istilah asing yg berkonotasi jorok dsb.  Itu di dunia maya, yang paling parah kalau anak menyaksikan live di dunia nyata : ibunya berantem sama tetangganya  sambil melontarkan ‘kata2 antik’.
Semua memang bermula dari rumah, dari keluarga yang inti : ayah dan ibu….

Dr. Mohammad Muchlis  di grup Room for chindren



sentiment_satisfied Emoticon