Kajian Muslimah: Aqidah Seorang Muslim (1)

watch_later Jumat, 09 Desember 2016
Kamus HQ
~~~~~~~~~
📆Senin, 21 November 2016
📚Aqidah Seorang Muslim
👤Ustadz Aris Munandar, M.P.I

Aqidah seorang muslim yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para rosulNya, hari akhir dan takdir yang baik berupa kenikmatan atau pun takdir yang buruk berupa musibah

Beriman kepada Allah:
Seorang muslim wajib mengimani:
1. Dalam hal rububiyah yakni mengimani bahwa Allah satu-satunya Robb semesta alam, pencipta dan pemilik semesta alam, pengatur semua urusan/kejadian.
2. Dalam hal uluhiyah Allah yakni mengimani bahwa sgala ibadah hanya hak Allah semata. Allah lah satu-satunya yang berhak diibadahi. Adapun sesembahan lain yang diibadahi sebagian manusia adalah batil. Mengapa Allah berhak disembah? Karena Allah adalah Robb; pencipta, pemilik & pengatur jagad raya.
3. Wajib mengimani bahwa Allah mempunyai nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang sempurna lagi mulia. Dimana sifat2 tersebut hanya Allah yang  punya dan tidak ada  yang serupa denganNya.

Jika kita mengimani 3 hal di atas maka kita betul2 orang yang bertauhid/mengesakan  Allah. 3 hal ini terkumpul  dalam  QS.  Maryam: 64
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
"Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?"

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat." QS. Asy-syuro: 11
 Ayat ini membicarakan tentang mengesakan Allah dalam nama dan sifatNya.


لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." QS. asy-syuro: 12
 Sedangkan ayat ini berbicara tentang mengesakan Allah dalam rububiyah Nya.

Di antara sifat Allah yang wajib kita imani adalah bahwa Allah berfirman/ berbicara, tidak bisu. Apa yang Allah bicarakan terserah Allah , kapan Allah berbicara terserah kapan Allah menghendaki, bagaimana Allah berbicara maka hanya Allah yang tau, yang jelas tidak serupa dengan Makhluknya.

Dan kita mengimani perkataan Allah adalah perkataan yang paling sempurna, jujur dalam berita, paling adil dalam hukum (yakni perintah & larangan) & berkualitas dalam perkataan.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui." QS. Al an'am:115

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا
"Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?" QS. an-nisa: 87

Kesempurnaan perkataan Allah mencakup 2 hal:
1⃣ kesempurnaan berita yang Allah firmankan (semisal dikisahkan cerita nabi2 yang dahulu)
2⃣kesempurnaan dalam hukum yang adil. Maka wajib bagi setiap muslim meyakini bahwa semua hukum & aturan Allah itu adil & tidak ada kedzoliman semisal hukum warisan, poligami dll

Dan kita beriman bahwa Alquran adalah firman Allah, yang Allah benar2 berfirman dengannya, yang disampaikan kepada jibril dan jibril turun membawa firman tersebut ke hati nabi Muhammad. Yang dimaksud "turun ke hati Nabi" yakni jibril turun membacakannya di Hadapan nabi dan Allah jamin apa yang dibacakan jibril merasuk ke hati nabi.

Kita mengimani bahwa Allah adalah Dzat yang tinggi di atas seluruh makhluk.  Begitu pula sifat dan kemuliaan Allah jauh di atas makhluk. Kehendak Allah adalah kehendak yang tinggi memaksa seluruh makhluk Nya.

Yang juga wajib kita imani adalah Allah turun ke langit dunia di ⅓ malam yang terakhir.
Yang dimaksud ⅓ malam yang terakhir adalah bagian terakhir dari waktu maghrib - subuh yang sudah dibagi menjadi 3 bagian.

مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ
‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’

Di antara sifat Allah yang wajib kita imani adalah ridho. Tentu ridhoNya Allah berbeda dengan ridhanya makhluk. Allah ridho/senang terhadap apa yang Ia syariatkan, begitu pula ridho kepada orang yang melaksanakan syariat Nya. Allah pun membenci apa2 yang Ia larang.

Termasuk sifat Allah adalah pandangan Nya meliputi seluruh penglihatan. Sedang tidak ada 1 penglihatan manusia yang bisa meliputi Allah. Meskipun orang-orang beriman bisa melihat Allah kelak di hari kiamat, namun penglihatan ini tidak meliputi, karena dalam bahasa arab, "melihat" mempunyai 2 level:
1. رُأْيَةٌ : Melihat
2. اِدْرَاكٌ/إِحَاطَةٌ : Melihat dengan meliputi (lebih detail)


لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." qs. Al an'am:103
Untuk memahami ayat di atas menggunakan pemahaman "melihat" dengan poin 1

Terdapat kaidah:

 نَفْيُ الْأَعْلَى يَتَضَمَّن إِثْبَاتُ مَا دُوْنَهُ (أو كما قال - في شرح عقيدة الطحاوية)
"Peniadaan sesuatu yang lebih unggul/tinggi, berarti menetapkan sesuatu yang di bawahnya" (atau yang semakna dengan ini di kitab syarh akidah thohawiyah)
Contoh: jika dikatakan "dia tidak jenius", maka pemahaman yang benar adalah "dia pintar" tapi tidak jenius. Dan salah jika dipahami "dia bodoh".
***Kaidah ini dipakai untuk memahami surat al an'am:103 bahwasanya ketika Allah meniadakan اِدْرَاكٌ maka berarti menetapkan level yang di bawahnya yakni رُأْيَةٌ.  Sehingga tidaklah benar sebagian orang yang memahami surat al na'am 103 dengan pemahaman bahwa manusia sama sekali tidak bisa melihat Allah kelak di hari kiamat. Pemahaman yang benar bahwa manusia kelak di hari kiamat bisa melihat Allah dengan penglihatan yang bersifat "rukyah" (tidak meliputi).


وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
"sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya" QS.  Thoha:110

Adapun penglihatan Allah bersifat "idrok" (meliputi) terhadap makhluk Nya bahkan mengetahui apa yang tersirat  dalam hati makhluk Nya.

Dan wajib pula kita mengimani bahwa orang2 mukmin akan melihat Allah kelak di hari kiamat:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri." QS qiyamah: 22

إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Kepada Tuhannyalah mereka melihat." QS qiyamah: 23

Mengimani bahwa tidak ada yang semisal dengan Allah.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat."
QS. Asy-syuro : 11

Karena sempurnanya sifat hidup Allah, serta sifat mengurusi dirinya sendiri dan makhluk Nya.

Kita juga meyakini bahwa Allah tidak mendzolimi seorang hamba pun karena begitu adilnya Dia.  Dan Dia tidak lalai dari melihat amalan2 hamba2 Nya karena begitu sempurna nya penglihatan Allah. Tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi yang bisa mengalahkan Allah karena begitu sempurna nya ilmu dan kekuasaan Nya. Kita wajib mengimani semua sifat2 yang Allah tetapkan pada diriNya, dan sifat2  yang ditetapkan/diceritakan Rosulullah.

Kita juga wajib waspada terhadap hal yang membahayakan:
1. اَلتَمْثِيْلُ : menyamakan Allah dengan makhluk Nya yakni berkata dalam hati atau berkata secara lisan.
2.  اَلتَّكْيِيْفُ : membahas / membayangkan bentuk /sifat Allah dengan sesuatu yang tidak ada di alam nyata.

Kita mengimani tidak adanya semua sifat yang Allah tiadakan dari diri Nya,  begitu pula sifat2 Allah yang ditiadakan Rosulullah.

Kaidah:
"Peniadaan itu bukanlah pujian kecuali jika mengandung penetapan kebalikannya."
** contoh: dikatakan "dia tidak bodoh" maka belum tentu dia pintar.  Dan ini bukan pujian.

Tapi jika dikaitkan dengan sifat Allah, semisal Allah meniadakan sifat dzolim dari diri Nya maka ini mengandung pujian dengan kebalikannya yakni menetapkan sifat adil bagi Allah.

Dan kita diam dari sifat2 yang Allah dan Rosulullah juga diam (tidak menceritakan)


✍ Ghoziyyah Ummu Ubaidillah
**bersambung, insyaallah
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
👥Group WA Kajian Muslimah Hamalatul Qur'an (KaMus-HQ)
📱082225264389
🌐Kajian Muslimah HQ
Join telegram Kajian Muslimah HQ



sentiment_satisfied Emoticon