Menghadapi Temper Tantrum pada Anak

watch_later Rabu, 22 Januari 2014






Ini adalah ringkasan pelatihan untuk parents tentang anak tantrum yang diadakan mahasiswa Psikologi Klinis Anak UI tahun 2010.

Definisi temper tantrum adalah suatu luapan emosi yang meledak-ledak
dan tidak terkontrol. Temper tantrum seringkali muncul pada anak usia 15
bulan hingga 6 tahun.

Sejak usia 8-9 bulan bayi sudah dapat menunjukkan emosi kemarahan/protesnya dengan cara melengkungkan badan ke belakang dan cenderung menjatuhkan/membenturkan tubuh ke bawah/lantai/kasur. Orangtua perlu waspada dan mengamankan lingkungan sekitarnya.

Temper tantrum dapat terjadi akibat keterbatasan anak dalam menyampaikan maksud/keinginannya kepada orang dewasa; karena belum lancar bicara misalnya. Di sini diharapkan orangtua yang memberi pengertian anak/mengarahkan untuk bertanya anak pada apa yang menjadi keinginannya, bisa berupa pertanyaan tertutup yang jawabannya ya/tidak. Orangtua yang dekat dan mengenal karakter anak umumnya tidak kesulitan dalam hal ini.

Sebelum terjadi tantrum memang idealnya orangtua kenali tanda-tanda anak bosan, marah, ngantuk, sedih dsb. Memang kalo diasuh orang lain sulit, tapi ya pengasuhnya harus dikomunikasikan. Jangan sampai keburu terjadi tantrum, jadi kita memahami apa yang dia mau dan sudah antisipasi sebelumnya.

Contoh misalnya kalau mau anak minta ini itu lagi belanja (atau pernah pengalaman begitu) ya anak jangan dibawa belanja, mengundang tantrum kan, di tempat umum lebih sulit melakukan cara-cara mengatasi tantrum karena jarang atau bahkan tidak ada ruang privat untuk ibu dan anak)

Kalau kita tidak mau dia makan permen dan dia melihat permen di meja atau melihat di warung/swalayan ya sebisa mungkin jangan dia melihat permen itu, jangan letakkan permen di tempat yang dia bisa lihat, atau kalau ke swalayan jangan lewat lorong permen.
Bila telanjur dan dia mau melanggar "norma" kita misalnya makan permen di bawah umur 3 tahun atau makan permen padahal giginya sudah bolong dan diberi aturan dokter gigi boleh makan permen asal misalnya cuma 2 kali atau boleh hanya hari minggu, dsb, cepat beri alternatif, misalnya tawari makanan lain, atau ajak main/kegiatan lain, sebelum keburu anak ngambek.

Pada dasarnya ada 3 cara baik mencegah dan menghadapi tantrum:

1) Ignorance: abaikan, tapi dengan cara yang baik.
Misalnya bilang: "dek mau nangis keras boleh, tapi bunda bilang ini gak boleh kamu minta karena main ini berbahaya, kalau kamu ga suka, silakan nangis, nanti kalau sudah selesai bunda ada di sini ya", lalu kita pergi ke tempat lain tapi masih bisa mengawasi anak-anak kalau-kalau dia kejeduk/mendekati tempat berbahaya, tapi kalau sudah "mengamankan" anak dan anak masih tantrum, pergi lagi menjauh dan mengabaikan “amukan tantrum” anak, sampai dia berhenti sendiri.

Konsisten, kita bilang kita pergi sampai dia selesai tantrum ya tepati kata-kata kita sendiri.

2) Holding time: peluk anak (ada caranya), lebih baik di tempat privat, ini dianjurkan buat ibu/orangtua yang ikut panik dan cemas ketika anak tantrum, jadi dengan sama2 berpelukan diharapkan keduanya tenang.
Pangku/berbaring sebelahan bisa, Peluk/tahan anak di atas lengannya, jepit lengan anak di kbawah etiak kita (tidak kasar tentunya), dan tatap matanya, kalau kita panik atau ikutan nangis atau kesal, kita curhatin aja ke dia "bunda sedih kamu marah-marah begini, bunda kesal...dsbnya, tapi jangan lupa: beri alasan kenapa kita marah, tentu alasan edukatif misalnya: “bunda sedih karena kalau kamu suka marah nanti orang2 lain/teman2 juga ga akan suka lho main sama kamu yang suka marah”, atau karena kamu sudah besar bentar lagi sekolah nanti tidak bisa ikut sekolah karena marah2/nangismu mengganggu teman2 di kelas...dsb dsbnya.

ini paling susah, anak biasanya berontak, tapi kita harus terus mengembalikan posisi lengannya di bawah pelukan kita supaya tidak memukul2/ menyakiti kita atau dirinya sendiri, terus begitu sampai dia tenang.

jangan lupa bilang, bahwa kita mengerti dia: “bunda ngerti kamu kesal, kamu marah karena kamu tidak boleh ambil ini dan itu, tapi bunda melarang karena sayang”, “karena bunda orang dewasa/orangtua tau itu bahaya”, atau “itu merusak gigimu (permen) kalo kebanyakan”, atau “itu membuat kamu jadi kelamaan nonton (film/video) jadi kamu lupa mau sekolah atau mau makan” dsb dsb...

Sekali lagi: konsisten, jangan setengah-setengah, jangan sampai kita yang melanggar aturan kita sendiri, pengasuh juga lebih baik kita edukasi supaya satu visi dan satu konsisten aturan terhadap anak.

3) Time out. anak disetrap,
Bila dia tantrum, peringatkan, "eh anak bunda kok marah2, ga baik dong, coba kecilin suara nangisnya....", ayo, bunda kasih tau sekali lagi ya, sebelumnya waktu dia tenang harus udah dikasih tau gimana aturan time out/setrap ini: "dek kamu kalau lagi ga manis/nakal/nangis2 keras bunda kasih tau ya 2 kali, kalau kamu ga bisa ikutin kata bunda, bunda time out/bunda setrap".
Setelah 2 peringatan masih nangis (jaraki 2-3 menit), bawa dia ke pojokan ruangan, dan kita tetap di ruangan itu mengawasi anak.

Jangan ada apapun di pojokan kecuali bangku/kursi kecil (boleh dia duduk), tidak boleh ada bantal, mainan, kertas, pulpen atau benda2 apapun yang bisa membuat dia teralihkan.

Lalu bilang kamu disetrap sampai alarm bunyi (pasang di hp) anak kecil kan belum ngerti satu menit itu berapa..., dan kamu disetrap krn kamu ga mau dengerin kata bunda, ga mau tenang, selama disetrap kamu pikirin ya, kenapa bunda setrap, kenapa nangis2 keras itu ga baik...dsb dsb....
Selama di time out anak mungkin pindah dari pojok, jadi kita harus kembalikan lagi dia ke tempat pojokannya, meski ia meronta, begitu terus, sampai waktu time out/alarm berbunyi. beritau dia boleh pindah kalau alarm sudah bunyi. Jangan ajak bicara anak sampai selesai time out meski ia mengajak kita bicara. Sebelumnya kan sudah dikasih tau kamu disetrap untk merenung, jadi bukan untuk kita ajak ngobrol :).

Aturan lama setrap adalah: 1 tahun = 1 menit, jadi kalau 20 bulan kira2 ya 100 detik atau 1,5 menit-an.kita menjauh sambil mengawasi dia. kalau dia kabur ga mau diam di pojok,kembalikan lagi dia ke pojok, terus saja sampai waktu time outnya selesai.

Setelah selesai, peluk dan tanya, apa anak tau kenapa di setrap? kalau dia ga tau juga/anak belum bisa ngomong, kita yang kasih tau: karena nangis sikap yang buruk, karena nangis boleh tapi tidak boleh mengganggu orang dengan jerit2, karena yg dia mau itu ga baik untuk dia, dsb

Sekali lagi...konsisten, kalau memang ada norma yang tidak sesuai untuk kita dan sudah disepakati sebelumnya sama anak misalnya: “harus kerjakan PR jam 7 malam ya” ya selamanya berlaku seperti itu. Pada anak yang masih kecil kita yang langsung memberi tau, pada yang mulai bisa diskusi, kita bisa membuat aturan sama-sama dan jangan lupa, beritau kenapa kita mensepakati satu aturan, dan anak akan lebih termotivasi bila kita juga berikan reward misalnya: “kamu anak yang baik ya, kalau ga suka sesuatu bilangnya baik-baik tidak teriak-teriak”, reward tidak harus barang kok, pujian tulus dan penghargaan akan terasa suatu prestasi bagi anak.

Oya time out/setrap ini HANYA BISA dari 18 bulan diterapkannya, pada umumnya, meski dari setahun bisa juga mulai dicoba.

Anak2 biarpun ga bisa bicara atau ga menimpali kata2 kita ngerti apa yang kita katakan, jadi bila tidak mau anak ber"tingkah", kita yang memang harus cerewet memberi tahu ini dan itu biarpun keliatannya dia ga dengerin atau nanggepin. semua sebaiknya dinarasikan, jadi menghindari dia melakukan ini itu yang kita ga harapkan.

Tidak baik/ga boleh anak diancam punishment, tapi daripada mengancam sesuatu yang tidak enak, ketika anak sudah pinter banget ngeles dan balikin kata2 kita dan "membangkang", pilihan time out menjadi lebih baik, setidaknya ketika kita bilang "kalau gitu kamu di time out/setrap aja kalau tidak mau minta maaf sama temannya" misalnya dia ngambek trus mukul2 orang, dan itu berhasil membuatnya minta maaf. karena setrap itu membuat dia sadar dia jadi kehilangan waktu untuk main misalnya atau nonton film favoritnya, dsbnya. Tentu setiap hari juga perlu diulang-ulang lagi ke anak, bahwa sikap tertentu tidak baik dan bagaimana harusnya bersikap, tidak sekedar “ini ga boleh itu ga baik” tanpa beritau alasannya. Nilai atau norma apapun yang ingin kita tanamkan yang paling penting juga KITA HARUS JADI TELADAN, jangan berharap anak jadi anak yang sabar kalau kita juga ga sabaran :P (sentil diri sendiri hehhehe), dan berulang kali katakan dan ingatkan dia nilai dan norma yang kita ajarkan.

Cara mengajarkan anak untuk memberitau yang salah bisa dengan holding time/peluk, setiap hari dilakukan sekali, tanpa tunggu anak tantrum dulu. Dengan berulang terpapar insyaAlloh bisa menjadi karakter anak dan anak bisa lebih tenang.

Cara menghadapi tantrum juga metodenya lebih efektif kalau lebih dari satu macam, misalnya time out dan holding time. Atau ignorance dan holding time, dan seterusnya. Semoga makin bijak memahami anak. Mohon maaf kalau ada kekurangan

Dita – bundanya Altaira Afrah Chelsea Andries
Spesialis Kedokteran Olahraga juga ;)




sentiment_satisfied Emoticon