
Mendidik Anak dengan Cinta, Ala Rosululloh
Ustadz Aris Munandar, M.Pi
Mendidik Anak dengan Cinta
عن عائشة رضي الله عنها ،
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « تخيروا لنطفكم فانكحوا الأكفاء وأنكحوا
إليهم »
Dari
Aisyah, Rasulullah bersabda, “Pilihlah tempat terbaik untuk sperma kalian.
Nikahilah wanita yang sekufu dan nikahkanlah anak perempuan kalian dengan
laki-laki yang sekufu dengannya” (HR Hakim dalam al Mustadrak dan beliau
mengatakan, ‘Ini adalah hadits yang sanadnya shahih).
Sekelumit tentang
cinta
لا تحد المحبة بحد أوضح منها فالحدود
لا تزيدها إلا خفاء وجفاء فحدها وجودها ولا توصف المحبة بوصف أظهر من المحبة
“Tidak ada definisi cinta yang lebih jelas
dibandingkan cinta itu sendiri. Definisi cinta itu hanya membuat pengertian
cinta itu tidak jelas. Jadi definisi cinta adalah cinta itu sendiri. Tidak ada
deskripsi tentang cinta yang lebih gamblang dibandingkan cinta itu sendiri”
(Madarij as Salikin 3/11).
ووضعوا لمعناها حرفين مناسبين للمسمى
غاية المناسبة الحاء التي هي من أقصى الحلق والباء الشفوية التي هي نهايته فللحاء
الابتداء وللباء الانتهاء وهذا شأن المحبة وتعلقها بالمحبوب فإن ابتداءها منه
وانتهاءها إليه
“Dalam bahasa Arab kata
kata cinta atau hubbun itu terdiri dari dua huruf yang memang pas untuk
menggambarkan cinta. Huruf ha’ itu makhrajnya adalah ujung tenggorokan.
Sedangkan makhroj ba’ itu di bibir dan bibir adalah akhir makhraj huruf
hijaiah. Huruf ha’ makhrojnya terletak di awal makhroj. Sedangkan bibir adalah
akhir makhroj. Demikianlah cinta dan kaitannya dengan pihak yang dicintai.
Cinta itu berawal dari yang mencintai dan berakhir kembali kepada yang pihak
dicintai” (Madarij as Salikin 3/12).
وأعطوا الحب
حركة الضم التي هي أشد الحركات وأقواها مطابقة لشدة حركة مسماه وقوتها وأعطوا الحب
وهو المحبوب حركة الكسر لخفتها عن الضمة وخفة المحبوب وخفة ذكره على قلوبهم
وألسنتهم
“Dalam
bahasa arab huruf pertama hubb yang berarti cinta diberi harokat dhommah yang
merupakan harokat yang paling berat dan paling kuat sama persis dengan berat
dan kuatnya cinta. Sedangkan orang yang dicintai dalam bahasa arab disebut
hibbun, huruf ha’ diberi harokat kasroh. Hal ini dikarenakan harokat kasroh
lebih ringan untuk diucapkan oleh lidah dibandingkan harokat dhommah.
Demikianlah pihak yang dicintai itu ringan untuk disebut dengan hati dan lidah”
(Madarij as Salikin 3/12).
Kekuatan
Cinta
فبالمحبة
وللمحبة وجدت الأرض والسموات وعليها فطرت المخلوقات ولها تحركت الأفلاك الدائرات
وبها وصلت الحركات إلى غاياتها واتصلت بداياتها بنهاياتها وبها ظفرت النفوس
بمطالبها وحصلت على نيل مآربها وتخلصت من معاطبها واتخذت إلى ربها سبيلا وكان لها
دون غيره مأمولا وسولا وبها نالت الحياة الطيبة وذاقت طعم الإيمان لمن رضيت بالله
ربا وبالإسلام دينا وبمحمد رسولا
“Dengan
sebab dan karena cinta terdapat langit dan bumi. Semua makhluk memiliki fitrah
cinta. Karena cinta bergeraklah segala benda langit mengikuti garis edarnya
masing masing. Dengan cintalah segala gerak sampai kepada tujuannya sehingga
awal gerakan terhubung dengan akhir gerakan. Dengan cinta manusia berhasil
mewujudkan cita-citanya, mendapatkan kebutuhannya dan selamat dari sebab-sebab
kebinasaannya serta dengan cinta seorang itu mau bersusah payah meniti jalan
menuju ridho rabbnya. Karena cinta tanpa yang lain tempat
menggantungkan harapan. Karena cinta seorang itu berhasil meraih hidup bahagia
dan merasakan nikmatnya iman bagi siapa saja yang ridho Allah sebagai rabbnya,
Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rasulnya” (Raudhoh al Muhibbin hal.
4).
Dampak dan Bukti Cinta
Diantara ungkapan
mengenai bukti dan konsekuensi cinta
خوف ترك
الحرمة مع إقامة الخدمة
“Khawatir
tidak memuliakan diiringi terus menerus memberikan pelayanan sebagaimana
semestinya”
استقلال
الكثير من نفسك واستكثار القليل من حبيبك
Ungkapan
lain mengatakan, “Menganggap sedikit banyak hal yang telah dilakukan untuk
orang yang dicintai dan menganggap banyak hal remeh yang didapatkan dari orang
yang dicintai”
استكثار
القليل من جنايتك واستقلال الكثير من طاعتك
Ungkapan
lain mengatakan, “Menganggap besar ketika sedikit mengecewakan orang yang
dicintai dan menganggap sedikit ketika mampu banyak mengabulkan permintaan
orang yang dicintai” (Madarij Salikin 3/13-14).
Penanggung
jawab pendidikan anak
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ - رضى الله عنه - أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ
بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ
بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda, “Seorang bapak
adalah pemimpin terhadap isteri dan anak-anaknya dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban tentang ‘rakyat’ yang dia pimpin. Seorang ibu adalah
pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anak suaminya dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban mengenai tugasnya tersebut” [HR Bukhari dan Muslim].
Ibnu Utsaimin mengatakan,
“Diantara hal yang menunjukkan betapa urgen peran wanita dalam memperbaiki
masyarakat adalah tumbuhnya generasi pada awal pertumbuhannya ada dalam
pangkuan wanita (baca: ibu). Hal ini menunjukkan urgensi kewajiban wanita dalam
perbaikan masyarakat” (Daur Mar’ah fi Ishlah al Mujtama’ hal 6).
Beliau juga mengatakan,
“Hendaknya seorang muslimah itu pandai dalam mendidik anak-anaknya karena
anak-anaknya adalah laki-laki dan wanita di masa depan. Di awal pertumbuhannya
mereka, anak-anak ini, berjumpa dengan ibunya.... Oleh karena itu wajib bagi
para ibu untuk perhatian dengan anak-anaknya dan perhatian dengan
pendidikannya. Jika si ibu tidak bisa mengendalikan anak-anaknya dia bisa minta
bantuan kepada ayah dari anak-anak tersebut atau walinya jika ayah dari
anak-anak tersebut sudah meninggal dunia. Wali anak-anak tersebut adalah
saudara dari suami, paman, keponakan dan seterusnya dari seterusnya” (Daur al
Mar’ah hal. 25-26).
Namun hal ini bukan berarti meniadakan peran penting seorang
bapak dalam pendidikan anak-anaknya karena dia bertanggung jawab untuk
memimpin, mendidik dan mengarahkan isteri dan anaknya sekaligus.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman
jagalah diri (termasuk di dalamnya anak) dan isterimu dari neraka yang bahan
bakunya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahrim: 6).
قَالَ الْكِيَا: فَعَلَيْنَا تَعْلِيمُ
أَوْلَادِنَا وَأَهْلِينَا الدِّينَ وَالْخَيْرَ، وَمَا لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ
مِنَ الْأَدَبِ. وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ
وَاصْطَبِرْ عَلَيْها [طه: 132].
Al-Kiya mengatakan,
“Kewajiban ayah untuk mengajarkan agama dan kebaikan kepada anak dan isterinya
dan adab-adab yang diperlukan oleh setiap orang, QS Thoha: 132 (Tafsir Thabari
terkait QS at-Tahrim: 6).
Ketika terjadi
perceraian dalam mazhab Syafii terdapat ketentuan sebagai berikut, “Jika anak
laki-laki memilih untuk tinggal bersama ibunya maka anak tersebut bersama
ibunya saat malam hari dan bersama ayahnya saat siang hari agar si ayah
berkesempatan untuk mengajari anaknya berbagai hal masalah agama atau pun
masalah dunia. Namun jika anak perempuan memilih tinggal bersama ibunya maka
siang malam anak tersebut di rumah ibunya dan ayah berkewajiban untuk mengunjunginya
secara periodik” (Ta’liq Majid Hamawi untuk Matan Taqrib hal 265).
Pada
dasarnya kebutuhan ilmu agama yang diperlukan seorang wanita wajib dipenuhi
oleh suaminya sehingga seorang suami adalah suami sekaligus guru ngaji bagi
isterinya karena diantara hak seorang isteri sebagaimana yang ditegaskan oleh
Syaikh Muhammad Umar Nawawi al Bantani adalah “mengajari isteri ilmu agama yang
menjadi kebutuhannya yaitu hukum seputar ibadah yang wajib ataupun yang sunnah
meski tidak tergolong sunnah muakkad atau yang ditekankan, demikian pula hukum
seputar darah haid” (Uqud Lijain hal 3).
Di tempat
yang lain beliau mengatakan, “Diantara kewajiban suami adalah mengajari
isterinya permasalahan agama dia dibutuhkan oleh isteri semisal hukum seputar
bersuci seperti tata cara mandi setelah haid selesai, mandi junub, wudhu dan
tayamum. Demikian pula suami berkewajiban mengajari isteri hukum-hukum seputar
haid dan berbagai hal mengenai ibadah yang wajib ataupun ibadah yang sunnah,
tentang shalat, zakat, puasa dan haji” (Syarh Uqud Lijain hal. 6).
Walhasil, seorang
ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya dan ayah adalah kepala sekolah yang
berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan guru, siswa dan sekolah.
Mendidik sesuai
dengan umur
- Umur
0 sampai tamyiz
Anak dalam usia ini kata para ulama tidak memiliki kemampuan untuk
membedakan tamrah dengan jamrah, korma dengan bara apai. Anak dalam fase usia
ini tidak diperintahkan untuk melakukan apapun namun jika dia memiliki
kemampuan untuk menghafal atau lainnya maka orang tua perlu mendukungnya.
- Setelah
tamyiz
Diperintah dengan motivasi (targhib) tanpa ditakut-takuti
(tarhib), tanpa dipukul tanpa cacian. Dalam usia ini hendaknya diberi
iming-iming dan motivasi dengan akherat bukan dengan dunia atau dunia yang
dikaitkan dengan Allah semisal “jika engkau rajin mengaji maka moga Allah
memberikan hidayah kepada ayahmu untuk bisa mengajakmu jalan-jalan”.
Di usia ini orang tua berkewajiban untuk mengingatkan dan
memerintahkan anaknya untuk mengerjakan sholat. Jika dia tidak melakukannya
anak tersebut tidak berdosa namun orang tua yang tidak mengajak dan
mengingatkan anaknya untuk mengerjakan sholat pada usia ini berdosa.
- 10
tahun sampai baligh
Usia ini adalah fase pendidikan dengan metode menakut nakuti
semisal dengan neraka. Dengan pula pada usia orang tua boleh memberikan hukuman
fisik kepada anak yang tidak mau ketika diperintahkan untuk mengerjakan sholat.
Demikianlah gambaran
pola pendidikan anak yang sesuai dengan sunnah Nabi sebagaimana penjelasan
Syaikh Sulaiman ar Ruhaili dalam link berikut ini:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ،
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:عَلِّقُوا
السَّوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ أَهْلُ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ لَهُمْ أَدَبٌ.
Dari
Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Gantungkanlah cambuk di tempat yang bisa
dilihat oleh semua anggota keluarga karena hal tersebut adalah bentuk
pendidikan untuk mereka” (HR Thabarani dalam Mu’jam Kabir dan dinilai hasan
oleh al Haitsami dalam Majmauz Zawaid).
عَنْ عَمْرِو
بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- « مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ
فِى الْمَضَاجِعِ ».
Dari
Abdullah bin Amr bin al Ash, Rasulullah bersabda, “Perintahkan anakmu untuk
mengerjakan sholat saat mereka berusia tujuh tahun. Pukullah karena melalaikan
sholat ketika mereka berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka”
(HR Abu Daud).
Pemisahan saat usia
sepuluh tahun ini mencakupa dua hal:
Pertama, untuk anak
laki-laki dan perempuan pemisahan kasur dan kamar tidur.
Kedua, sedangkan
untuk sesama anak laki-laki pemisahan kasur saja meski berada dalam kamar tidur
yang sama.
Rincian semisal ini
disampaikan oleh Syaikh Sulaiman ar Ruhaili sebagaimana dalam link berikut: https://youtu.be/We91m3rzVc
admin
19.20
New Google SEO
Bandung, IndonesiaAssalamu'alaikum
Setelah sekian lama absen nggak nge-post di blog, alhamdulillah muncul lagi, mau nulis lagi..... ^^
Sesuai judul, kali ini mau sharing sedikit tentang produk tupperware. Pasti udah banyak yang tau tentang produk ini. Ya kan? Ya kan?
Terus terang, dulu saya kurang suka dengan produk yang satu ini. Kenapa? Harganya mihil, jeng! Itu alasan saya, untuk produk plastik seperti itu, saya pikir bisa membeli produk sejenis dengan fungsi yang sama tapi dengan harga yang cukup terjangkau. Bayangin coba, untuk tempat minum semacam tumbler tupperware 470ml harganya bisa puluhan ribu *haaa?* coba beli di supermarket, harganya nggak sampai 10rb. jaaauuuuuuhhhhh lebih murah kan? So, nggak pernah terbersit dalam pikiran saya untuk beli produk tupperware.
Tapi, kejadian tak terduga mengubah hidup saya *halah* hehe akhirnya, ngerasain juga bagaimana punya produk tupperware.....itupun karena menang kuis hehehe. Jadi, -+ 5 tahun yang lalu sewaktu masih kongkow2 dengan teman-teman sesama pedagang online di facebook, kami sering mengadakan kuis secara bergantian. Hadiahnya? nggak mewah - mewah, ya produk yang dijual si seller yang ngadakan kuis. Singkat cerita, pas seller tupperware ngadakan kuis, sayalah yang menang dan mendapatkan hadiah tupperware 2 biji: tumbler 300ml dan independence tumbler 470ml
Udah liat kan? tupperware pertama saya yang saya dapatkan dari menang kuis sekitar 5 tahun yang lalu. Pas barang datang, beneran penasaran kayak apa sih tupperware itu kok harganya nggak murah? Daaaannnnn, kesan pertama memang menggoda :p beneran loh, pas megang produknya jelas beda banget dengan produk plastik yang dijual murah di pasar atau supermarket. Plastik tupperware cukup tebal dan kokoh. Inilah kesan pertama saya tentang tupperware dari sentuhan pertama. Lumayanlah, lanjut....
Kesan kedua, ketika penggunaannya...ketika itu saya baru punya anak 1 yang kalo pergi2 musti bawa air minum. Pas banget nih udah punya tupperware, jadi bisa dimanfaatkan. Nah, saya seneng banget ketika saya tumbler tupperware itu ada di dalam tas, nggak mungkin kan tumblernya berdiri anteng? mesti kadang dia ambruk karena tasnya goyang - goyang....tapi ternyata tutupnya sangat rapat, tidak ada air yang menetes, ngrembes (jawa) atau bahkan tumpah. No no no, tidak pernah saya mengalami seperti itu. Bahkan ketika secara tidak sengaja, tumblernya jatuh ke lantai, masih anteng aja tuh tutupnya nggak lepas sedikitpun. Padahal sebelumnya ya, kalo bawa air minum pakai botol lain...pas posisi tas goyang - goyang lalu botol ambruk, biasanya airnya tumpah..minimalnya air akan merembes, jadi saya harus sering ngecek memastikan si botol tetep dalam posisi berdiri di dalam tas biar tas nya nggak basah kena rembesan air. Atau, kadang pas saya nggak mau ribet sering ngecek botol...botolnya saya masukkan dalam plastik, jadi kalopun posisi ambruk dan airnya keluar, air tetap ada di dalam plastik.
Sejak pertemuan & perkenalan pertama itulah, saya mulai menyukai tupperware :D sejak itu pula kadang suka beli produk - produk tupperware. Emang sih, harganya nggak murah...tapi kalo dilihat dari sisi kepuasan, saya rasa seimbang. Kepuasan dari sisi kualitas produk: produk tupperware menggunakan bahan plastik yang aman untuk makanan, kualitas dalam hal pemakaian seperti yang saya sampaikan di atas...tutupnya rapat, tidak mudah tumpah apalagi ada garansi seumur hidup (s&k). Dan akhirnya memutuskan untuk menjadi member tupperware & ikut menjual produk- produknya karena sudah merasakan manfaat produk-produknya
Tapi, kejadian tak terduga mengubah hidup saya *halah* hehe akhirnya, ngerasain juga bagaimana punya produk tupperware.....itupun karena menang kuis hehehe. Jadi, -+ 5 tahun yang lalu sewaktu masih kongkow2 dengan teman-teman sesama pedagang online di facebook, kami sering mengadakan kuis secara bergantian. Hadiahnya? nggak mewah - mewah, ya produk yang dijual si seller yang ngadakan kuis. Singkat cerita, pas seller tupperware ngadakan kuis, sayalah yang menang dan mendapatkan hadiah tupperware 2 biji: tumbler 300ml dan independence tumbler 470ml
![]() |
| penampakan tupperware pertama saya dari menang kuis :D karena udah lama dan sering dipakai & dicuci, printingnya udah nggak sebagus dulu tapi tetap tidak mengurangi fungsinya lho. Masih awet |
Udah liat kan? tupperware pertama saya yang saya dapatkan dari menang kuis sekitar 5 tahun yang lalu. Pas barang datang, beneran penasaran kayak apa sih tupperware itu kok harganya nggak murah? Daaaannnnn, kesan pertama memang menggoda :p beneran loh, pas megang produknya jelas beda banget dengan produk plastik yang dijual murah di pasar atau supermarket. Plastik tupperware cukup tebal dan kokoh. Inilah kesan pertama saya tentang tupperware dari sentuhan pertama. Lumayanlah, lanjut....
Kesan kedua, ketika penggunaannya...ketika itu saya baru punya anak 1 yang kalo pergi2 musti bawa air minum. Pas banget nih udah punya tupperware, jadi bisa dimanfaatkan. Nah, saya seneng banget ketika saya tumbler tupperware itu ada di dalam tas, nggak mungkin kan tumblernya berdiri anteng? mesti kadang dia ambruk karena tasnya goyang - goyang....tapi ternyata tutupnya sangat rapat, tidak ada air yang menetes, ngrembes (jawa) atau bahkan tumpah. No no no, tidak pernah saya mengalami seperti itu. Bahkan ketika secara tidak sengaja, tumblernya jatuh ke lantai, masih anteng aja tuh tutupnya nggak lepas sedikitpun. Padahal sebelumnya ya, kalo bawa air minum pakai botol lain...pas posisi tas goyang - goyang lalu botol ambruk, biasanya airnya tumpah..minimalnya air akan merembes, jadi saya harus sering ngecek memastikan si botol tetep dalam posisi berdiri di dalam tas biar tas nya nggak basah kena rembesan air. Atau, kadang pas saya nggak mau ribet sering ngecek botol...botolnya saya masukkan dalam plastik, jadi kalopun posisi ambruk dan airnya keluar, air tetap ada di dalam plastik.
Sejak pertemuan & perkenalan pertama itulah, saya mulai menyukai tupperware :D sejak itu pula kadang suka beli produk - produk tupperware. Emang sih, harganya nggak murah...tapi kalo dilihat dari sisi kepuasan, saya rasa seimbang. Kepuasan dari sisi kualitas produk: produk tupperware menggunakan bahan plastik yang aman untuk makanan, kualitas dalam hal pemakaian seperti yang saya sampaikan di atas...tutupnya rapat, tidak mudah tumpah apalagi ada garansi seumur hidup (s&k). Dan akhirnya memutuskan untuk menjadi member tupperware & ikut menjual produk- produknya karena sudah merasakan manfaat produk-produknya

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,
“Wahai anak Adam, jika engkau melihat manusia berada dalam sebuah kebaikan, saingilah mereka. Namun, jika engkau melihatnya berada padasebuah kebinasaan, janganlah engkau menyaingi mereka dan pilihan mereka.”
“Sungguh, kami telah melihat beberapa kaum lebih memilih bagian mereka
yang disegerakan (di dunia) daripada yang diakhirkan (di akhirat).
Akhirnya, mereka menjadi hina, binasa, dan terkenal (keburukannya).”
Beliau mengatakan rahimahumallah pula,
“Barang siapa yang berlomba denganmu dalam hal agama, saingilah dia. Adapun orang yang menyaingimu dalam hal duniamu, lemparkanlah urusan dunia itu ke lehernya.”
Beliau mengatakan rahimahumallah pula,
“Apabila engkau melihat manusia menyaingimu dalam hal dunia, saingilah mereka dalam hal akhirat. Sungguh, dunia mereka akan hilang dan akhirat akan kekal.” (Mawa’izh al-Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)
admin
04.08
New Google SEO
Bandung, IndonesiaBeliau mengatakan rahimahumallah pula,
“Barang siapa yang berlomba denganmu dalam hal agama, saingilah dia. Adapun orang yang menyaingimu dalam hal duniamu, lemparkanlah urusan dunia itu ke lehernya.”
Beliau mengatakan rahimahumallah pula,
“Apabila engkau melihat manusia menyaingimu dalam hal dunia, saingilah mereka dalam hal akhirat. Sungguh, dunia mereka akan hilang dan akhirat akan kekal.” (Mawa’izh al-Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)
Tes IQ adalah tes untuk
mengetahui POTENSI KECERDASAN seseorang serta tingkatannya jika
dibandingkan dengan kelompok usia yang setara. Hasil tes digambarkan
dalam bentuk SKOR dan KATEGORI SKOR. Tes IQ pada anak-anak bermanfaat
untuk mengetahui gambaran kemampuannya baik secara umum maupun spesifik
pada aspek tertentu, untuk deteksi dini masalah belajar, dan sebagai
salah satu bahan pertimbangan kesiapan sekolah atau kesiapan menghadapi
jenjang pendidikan.
Hal-hal yang mempengaruhi hasil tes IQ
Skor IQ dapat dipengaruhi banyak hal seperti kondisi kesehatan fisik dan mental anak saat pengetesan, jarak antara tes yang satu dengan yang lainnya, keterbatasan sensori (indera), hambatan komunikasi, dan faktor perilaku, misalnya anaksangat pemalu, hiperaktif, dsb.
Validitas laporan hasil tes IQ
Laporan hasil tes IQ yang diterima oleh anak atau orang tua dapat dikatakan valid jika sejak awal pengetesan dilakukan oleh psikolog sebagai tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk menjalankan serta menginterpretasikan tes, dan hasilnya pun disahkan oleh psikolog.
Selain validitas hasil tes, para orang tua/tenaga pendidik perlu mencermati kualitas laporannya. Hasil tes IQ yang BERKUALITAS (bermutu) setidaknya memuat hal-hal berikut:
Skor IQ memang dipengaruhi banyak hal, namun tidak pula berarti skornya dapat berubah-ubah secara drastis. Perubahan mungkin saja terjadi, karena sepanjang hidup anak melalui proses belajar dan mendapatkan berbagai pengalaman. Untuk dapat membandingkan hasil tes dari masa ke masa, tidak dianjurkan untuk dites dalam waktu yang berdekatan.
Penting untuk diingat:
Tes IQ tidak semata-mata tentang skor, namun juga perlu dijelaskan maknanya serta implikasi di keseharian anak. Orang tua perlu jeli mencermati hasil tes IQ anak, karena tidak semua penyelenggara tes memperhatikan kaidah-kaidah mutu pengetesan dan validitas hasil.
---------------------
By: Widya S. Sari, MPsi, RSUP Fatmawati Jakarta Selatan
admin
08.23
New Google SEO
Bandung, IndonesiaHal-hal yang mempengaruhi hasil tes IQ
Skor IQ dapat dipengaruhi banyak hal seperti kondisi kesehatan fisik dan mental anak saat pengetesan, jarak antara tes yang satu dengan yang lainnya, keterbatasan sensori (indera), hambatan komunikasi, dan faktor perilaku, misalnya anaksangat pemalu, hiperaktif, dsb.
Validitas laporan hasil tes IQ
Laporan hasil tes IQ yang diterima oleh anak atau orang tua dapat dikatakan valid jika sejak awal pengetesan dilakukan oleh psikolog sebagai tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk menjalankan serta menginterpretasikan tes, dan hasilnya pun disahkan oleh psikolog.
Selain validitas hasil tes, para orang tua/tenaga pendidik perlu mencermati kualitas laporannya. Hasil tes IQ yang BERKUALITAS (bermutu) setidaknya memuat hal-hal berikut:
- Skor IQ atau grade, serta kategorinya
- Nama skala yang digunakan saat pengetesan (misalnya: skala Wechsler, skala Stanford-Binet,dsb.). Hal ini berguna saat kita ingin membandingkan skor IQ terdahulu dengan yang akan datang. Selain itu, melalui informasi tentang skala yang digunakan kita dapat menelusuri aspek yang diukur. Memudahkan juga jika nantinya anak akan berkonsultasi dengan dokter/psikolog lain.
- Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh masyarakat secara umum dan tidak banyak memuat istilah asing yang membingungkan. Ataupun jika terdapat banyak istilah tak umum, semestinya hasil pemeriksaan tersebut juga disertai sesi konseling yang menjelaskan maksudnya.
Skor IQ memang dipengaruhi banyak hal, namun tidak pula berarti skornya dapat berubah-ubah secara drastis. Perubahan mungkin saja terjadi, karena sepanjang hidup anak melalui proses belajar dan mendapatkan berbagai pengalaman. Untuk dapat membandingkan hasil tes dari masa ke masa, tidak dianjurkan untuk dites dalam waktu yang berdekatan.
Penting untuk diingat:
Tes IQ tidak semata-mata tentang skor, namun juga perlu dijelaskan maknanya serta implikasi di keseharian anak. Orang tua perlu jeli mencermati hasil tes IQ anak, karena tidak semua penyelenggara tes memperhatikan kaidah-kaidah mutu pengetesan dan validitas hasil.
---------------------
By: Widya S. Sari, MPsi, RSUP Fatmawati Jakarta Selatan
Plecing kangkung !
Siapa suka?
Saya termasuk orang yang suka dengan plecing kangkung, rasanya khas terasi dan rasa pedas yang nampol memang bikin saya ketagihan, praktis juga lho masaknya. Sekedar berbagi tips, dalam resep plecing ini...cara memasak kangkung biasanya direbus dan seringnya kangkung yang direbus berubah warna menjadi lebih gelap atau kecoklatan....kurang menarik perhatian lah poko'nya.
Nah biar kangkung yang direbus tetap berwarna hijau segar, ketika rebusan air sudah mendidih, coba tambahkan garam dapur, aduk sebentar supaya garam larut kemudian masukkan kangkung, tunggu sampai agak lunak (atau sesuai selera) dan tiriskan. Mudah kan? Kangkung tetap berwarna hijau dan siap diolah menjadi plecing .... yummmyyyyy
Selamat mencoba admin 08.08 New Google SEO Bandung, Indonesia
Sekilas terdengar biasa tapi bisa berbahaya .....
1. Saudara laki2nya bertanya saat kunjungan seminggu setelah ia melahirkan : " hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan ? " ... " tidak ada " jawabnya pendek ... saudara laki2 nya berkata lagi : " masa sih ... apa engkau tidak berharga disisinya ?? aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa " .... siang itu ... ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk dirumah ... keduanya lalu terlibat pertengkaran ... sebulan kemudian ... antara suami istri ini terjadi perceraian ... dari mana sumber masalah ??? kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki2 sang istri ....
2. Saat arisan seorang ibu bertanya : " rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ?? bukankah anak2 mu banyak ?? " ... rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya ... ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank .
3. Seorang teman bertanya : '' berapa gajimu sebulan kerja di toko si fulan ?? " ... ia menjawab : " 1 juta rupiah " ... " cuma 1 juta rupiah ... sedikit sekali ia menghargai keringatmu .. apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu ?? " ... sejak saat itu ia jadi membenci pekerjaannya .. ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko ... pemilik toko menolak dan mem PHK nya .... kini ia malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran ...
4. Seseorang bertanya pada kakek tua itu : " berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan ?? " ... si kakek menjawab : " sebulan sekali " .... yang bertanya menimpali : " wah keterlaluan sekali anak2 mu itu .. diusia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering " ... Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak2 nya ... ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya ....
Apa sebenarnya keuntungan yang kita dapat ketika bertanya seperti pertanyaan2 diatas ??? ... Jagalah diri dari mencampuri kehidupan orang lain ... mengecilkan dunia mereka ... menanamkan rasa tak rela pada apa yang mereka miliki .... mengkritisi penghasilan dan keluarga mereka ... dst dst .... kita akan menjadi agen kerusakan dimuka bumi dengan cara ini ... bila ada bom yang meledak cobalah intropeksi diri .... bisa jadi kitalah yang menyalakan sumbu nya ..... admin 07.43 New Google SEO Bandung, Indonesia
Bakti Seorang Anak Kepada Ibunya yang Memiliki Keterbelakangan Mental
Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy
Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya…
Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya…
Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut…
Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan :“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usiake ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit.
Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…
Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.
Pemuda itu menjawab :“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”
Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”Ia menjawab : “Aku”
Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”
Ia menjawab : “Aku suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkanpakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”
Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”
Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”
Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..
Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”
Ia menjawab : “Alhamdulillah,aku sudah beristri dan punya beberapa anak”
Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”
Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya,dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gulanya”
Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”
Ia menjawab : “Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya”
Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…
Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.
Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”
Ia menjawab : “Aku. Dokter, ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”
Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”
Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”
Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…sekarang!”
Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihatanak-anakku gembira…”
Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…
dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.Lalu aku bertanya lagi : “Apakah Anda punya saudara?”
Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”
Aku bertanya : “Jadi Anda dirawat ayah?”
Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”
Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda?”
Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihandia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”
Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…
Ia memegang tangan ibunya dan berkata : “Marikita ke kedai..”
Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja!”
Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…
Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah?”
Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”
Aku pun bertanya pada putranya : “
Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”
Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda…lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Makkah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi umrah tanpa membawanya”.
Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.
Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…
Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…
Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…
Aku berkata dalam diriku :
“Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…
Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…
Ibunya tidak pernah merawatnya…
Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…
Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…
Tidak pernah begadang malam…
Tidak pernah mengajarinya…
Tidak pernah sedih karenanya…
Tidak pernah menangis untuknya…
Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…
Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…
Tidak pernah….dan tidak pernah…!
Walaupun demikian…
pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu”.
Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat….seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental??? admin 07.38 New Google SEO Bandung, Indonesia














