
Mendidik Anak dengan Cinta, Ala Rosululloh
Ustadz Aris Munandar, M.Pi
Mendidik Anak dengan Cinta
عن عائشة رضي الله عنها ،
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « تخيروا لنطفكم فانكحوا الأكفاء وأنكحوا
إليهم »
Dari
Aisyah, Rasulullah bersabda, “Pilihlah tempat terbaik untuk sperma kalian.
Nikahilah wanita yang sekufu dan nikahkanlah anak perempuan kalian dengan
laki-laki yang sekufu dengannya” (HR Hakim dalam al Mustadrak dan beliau
mengatakan, ‘Ini adalah hadits yang sanadnya shahih).
Sekelumit tentang
cinta
لا تحد المحبة بحد أوضح منها فالحدود
لا تزيدها إلا خفاء وجفاء فحدها وجودها ولا توصف المحبة بوصف أظهر من المحبة
“Tidak ada definisi cinta yang lebih jelas
dibandingkan cinta itu sendiri. Definisi cinta itu hanya membuat pengertian
cinta itu tidak jelas. Jadi definisi cinta adalah cinta itu sendiri. Tidak ada
deskripsi tentang cinta yang lebih gamblang dibandingkan cinta itu sendiri”
(Madarij as Salikin 3/11).
ووضعوا لمعناها حرفين مناسبين للمسمى
غاية المناسبة الحاء التي هي من أقصى الحلق والباء الشفوية التي هي نهايته فللحاء
الابتداء وللباء الانتهاء وهذا شأن المحبة وتعلقها بالمحبوب فإن ابتداءها منه
وانتهاءها إليه
“Dalam bahasa Arab kata
kata cinta atau hubbun itu terdiri dari dua huruf yang memang pas untuk
menggambarkan cinta. Huruf ha’ itu makhrajnya adalah ujung tenggorokan.
Sedangkan makhroj ba’ itu di bibir dan bibir adalah akhir makhraj huruf
hijaiah. Huruf ha’ makhrojnya terletak di awal makhroj. Sedangkan bibir adalah
akhir makhroj. Demikianlah cinta dan kaitannya dengan pihak yang dicintai.
Cinta itu berawal dari yang mencintai dan berakhir kembali kepada yang pihak
dicintai” (Madarij as Salikin 3/12).
وأعطوا الحب
حركة الضم التي هي أشد الحركات وأقواها مطابقة لشدة حركة مسماه وقوتها وأعطوا الحب
وهو المحبوب حركة الكسر لخفتها عن الضمة وخفة المحبوب وخفة ذكره على قلوبهم
وألسنتهم
“Dalam
bahasa arab huruf pertama hubb yang berarti cinta diberi harokat dhommah yang
merupakan harokat yang paling berat dan paling kuat sama persis dengan berat
dan kuatnya cinta. Sedangkan orang yang dicintai dalam bahasa arab disebut
hibbun, huruf ha’ diberi harokat kasroh. Hal ini dikarenakan harokat kasroh
lebih ringan untuk diucapkan oleh lidah dibandingkan harokat dhommah.
Demikianlah pihak yang dicintai itu ringan untuk disebut dengan hati dan lidah”
(Madarij as Salikin 3/12).
Kekuatan
Cinta
فبالمحبة
وللمحبة وجدت الأرض والسموات وعليها فطرت المخلوقات ولها تحركت الأفلاك الدائرات
وبها وصلت الحركات إلى غاياتها واتصلت بداياتها بنهاياتها وبها ظفرت النفوس
بمطالبها وحصلت على نيل مآربها وتخلصت من معاطبها واتخذت إلى ربها سبيلا وكان لها
دون غيره مأمولا وسولا وبها نالت الحياة الطيبة وذاقت طعم الإيمان لمن رضيت بالله
ربا وبالإسلام دينا وبمحمد رسولا
“Dengan
sebab dan karena cinta terdapat langit dan bumi. Semua makhluk memiliki fitrah
cinta. Karena cinta bergeraklah segala benda langit mengikuti garis edarnya
masing masing. Dengan cintalah segala gerak sampai kepada tujuannya sehingga
awal gerakan terhubung dengan akhir gerakan. Dengan cinta manusia berhasil
mewujudkan cita-citanya, mendapatkan kebutuhannya dan selamat dari sebab-sebab
kebinasaannya serta dengan cinta seorang itu mau bersusah payah meniti jalan
menuju ridho rabbnya. Karena cinta tanpa yang lain tempat
menggantungkan harapan. Karena cinta seorang itu berhasil meraih hidup bahagia
dan merasakan nikmatnya iman bagi siapa saja yang ridho Allah sebagai rabbnya,
Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rasulnya” (Raudhoh al Muhibbin hal.
4).
Dampak dan Bukti Cinta
Diantara ungkapan
mengenai bukti dan konsekuensi cinta
خوف ترك
الحرمة مع إقامة الخدمة
“Khawatir
tidak memuliakan diiringi terus menerus memberikan pelayanan sebagaimana
semestinya”
استقلال
الكثير من نفسك واستكثار القليل من حبيبك
Ungkapan
lain mengatakan, “Menganggap sedikit banyak hal yang telah dilakukan untuk
orang yang dicintai dan menganggap banyak hal remeh yang didapatkan dari orang
yang dicintai”
استكثار
القليل من جنايتك واستقلال الكثير من طاعتك
Ungkapan
lain mengatakan, “Menganggap besar ketika sedikit mengecewakan orang yang
dicintai dan menganggap sedikit ketika mampu banyak mengabulkan permintaan
orang yang dicintai” (Madarij Salikin 3/13-14).
Penanggung
jawab pendidikan anak
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ - رضى الله عنه - أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ
بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ
بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda, “Seorang bapak
adalah pemimpin terhadap isteri dan anak-anaknya dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban tentang ‘rakyat’ yang dia pimpin. Seorang ibu adalah
pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anak suaminya dan dia akan dimintai
pertanggungjawaban mengenai tugasnya tersebut” [HR Bukhari dan Muslim].
Ibnu Utsaimin mengatakan,
“Diantara hal yang menunjukkan betapa urgen peran wanita dalam memperbaiki
masyarakat adalah tumbuhnya generasi pada awal pertumbuhannya ada dalam
pangkuan wanita (baca: ibu). Hal ini menunjukkan urgensi kewajiban wanita dalam
perbaikan masyarakat” (Daur Mar’ah fi Ishlah al Mujtama’ hal 6).
Beliau juga mengatakan,
“Hendaknya seorang muslimah itu pandai dalam mendidik anak-anaknya karena
anak-anaknya adalah laki-laki dan wanita di masa depan. Di awal pertumbuhannya
mereka, anak-anak ini, berjumpa dengan ibunya.... Oleh karena itu wajib bagi
para ibu untuk perhatian dengan anak-anaknya dan perhatian dengan
pendidikannya. Jika si ibu tidak bisa mengendalikan anak-anaknya dia bisa minta
bantuan kepada ayah dari anak-anak tersebut atau walinya jika ayah dari
anak-anak tersebut sudah meninggal dunia. Wali anak-anak tersebut adalah
saudara dari suami, paman, keponakan dan seterusnya dari seterusnya” (Daur al
Mar’ah hal. 25-26).
Namun hal ini bukan berarti meniadakan peran penting seorang
bapak dalam pendidikan anak-anaknya karena dia bertanggung jawab untuk
memimpin, mendidik dan mengarahkan isteri dan anaknya sekaligus.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman
jagalah diri (termasuk di dalamnya anak) dan isterimu dari neraka yang bahan
bakunya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahrim: 6).
قَالَ الْكِيَا: فَعَلَيْنَا تَعْلِيمُ
أَوْلَادِنَا وَأَهْلِينَا الدِّينَ وَالْخَيْرَ، وَمَا لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ
مِنَ الْأَدَبِ. وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ
وَاصْطَبِرْ عَلَيْها [طه: 132].
Al-Kiya mengatakan,
“Kewajiban ayah untuk mengajarkan agama dan kebaikan kepada anak dan isterinya
dan adab-adab yang diperlukan oleh setiap orang, QS Thoha: 132 (Tafsir Thabari
terkait QS at-Tahrim: 6).
Ketika terjadi
perceraian dalam mazhab Syafii terdapat ketentuan sebagai berikut, “Jika anak
laki-laki memilih untuk tinggal bersama ibunya maka anak tersebut bersama
ibunya saat malam hari dan bersama ayahnya saat siang hari agar si ayah
berkesempatan untuk mengajari anaknya berbagai hal masalah agama atau pun
masalah dunia. Namun jika anak perempuan memilih tinggal bersama ibunya maka
siang malam anak tersebut di rumah ibunya dan ayah berkewajiban untuk mengunjunginya
secara periodik” (Ta’liq Majid Hamawi untuk Matan Taqrib hal 265).
Pada
dasarnya kebutuhan ilmu agama yang diperlukan seorang wanita wajib dipenuhi
oleh suaminya sehingga seorang suami adalah suami sekaligus guru ngaji bagi
isterinya karena diantara hak seorang isteri sebagaimana yang ditegaskan oleh
Syaikh Muhammad Umar Nawawi al Bantani adalah “mengajari isteri ilmu agama yang
menjadi kebutuhannya yaitu hukum seputar ibadah yang wajib ataupun yang sunnah
meski tidak tergolong sunnah muakkad atau yang ditekankan, demikian pula hukum
seputar darah haid” (Uqud Lijain hal 3).
Di tempat
yang lain beliau mengatakan, “Diantara kewajiban suami adalah mengajari
isterinya permasalahan agama dia dibutuhkan oleh isteri semisal hukum seputar
bersuci seperti tata cara mandi setelah haid selesai, mandi junub, wudhu dan
tayamum. Demikian pula suami berkewajiban mengajari isteri hukum-hukum seputar
haid dan berbagai hal mengenai ibadah yang wajib ataupun ibadah yang sunnah,
tentang shalat, zakat, puasa dan haji” (Syarh Uqud Lijain hal. 6).
Walhasil, seorang
ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya dan ayah adalah kepala sekolah yang
berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan guru, siswa dan sekolah.
Mendidik sesuai
dengan umur
- Umur
0 sampai tamyiz
Anak dalam usia ini kata para ulama tidak memiliki kemampuan untuk
membedakan tamrah dengan jamrah, korma dengan bara apai. Anak dalam fase usia
ini tidak diperintahkan untuk melakukan apapun namun jika dia memiliki
kemampuan untuk menghafal atau lainnya maka orang tua perlu mendukungnya.
- Setelah
tamyiz
Diperintah dengan motivasi (targhib) tanpa ditakut-takuti
(tarhib), tanpa dipukul tanpa cacian. Dalam usia ini hendaknya diberi
iming-iming dan motivasi dengan akherat bukan dengan dunia atau dunia yang
dikaitkan dengan Allah semisal “jika engkau rajin mengaji maka moga Allah
memberikan hidayah kepada ayahmu untuk bisa mengajakmu jalan-jalan”.
Di usia ini orang tua berkewajiban untuk mengingatkan dan
memerintahkan anaknya untuk mengerjakan sholat. Jika dia tidak melakukannya
anak tersebut tidak berdosa namun orang tua yang tidak mengajak dan
mengingatkan anaknya untuk mengerjakan sholat pada usia ini berdosa.
- 10
tahun sampai baligh
Usia ini adalah fase pendidikan dengan metode menakut nakuti
semisal dengan neraka. Dengan pula pada usia orang tua boleh memberikan hukuman
fisik kepada anak yang tidak mau ketika diperintahkan untuk mengerjakan sholat.
Demikianlah gambaran
pola pendidikan anak yang sesuai dengan sunnah Nabi sebagaimana penjelasan
Syaikh Sulaiman ar Ruhaili dalam link berikut ini:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ،
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:عَلِّقُوا
السَّوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ أَهْلُ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ لَهُمْ أَدَبٌ.
Dari
Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Gantungkanlah cambuk di tempat yang bisa
dilihat oleh semua anggota keluarga karena hal tersebut adalah bentuk
pendidikan untuk mereka” (HR Thabarani dalam Mu’jam Kabir dan dinilai hasan
oleh al Haitsami dalam Majmauz Zawaid).
عَنْ عَمْرِو
بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- « مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ
فِى الْمَضَاجِعِ ».
Dari
Abdullah bin Amr bin al Ash, Rasulullah bersabda, “Perintahkan anakmu untuk
mengerjakan sholat saat mereka berusia tujuh tahun. Pukullah karena melalaikan
sholat ketika mereka berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka”
(HR Abu Daud).
Pemisahan saat usia
sepuluh tahun ini mencakupa dua hal:
Pertama, untuk anak
laki-laki dan perempuan pemisahan kasur dan kamar tidur.
Kedua, sedangkan
untuk sesama anak laki-laki pemisahan kasur saja meski berada dalam kamar tidur
yang sama.
Rincian semisal ini
disampaikan oleh Syaikh Sulaiman ar Ruhaili sebagaimana dalam link berikut: https://youtu.be/We91m3rzVc
admin
19.20
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,
“Wahai anak Adam, jika engkau melihat manusia berada dalam sebuah kebaikan, saingilah mereka. Namun, jika engkau melihatnya berada padasebuah kebinasaan, janganlah engkau menyaingi mereka dan pilihan mereka.”
“Sungguh, kami telah melihat beberapa kaum lebih memilih bagian mereka
yang disegerakan (di dunia) daripada yang diakhirkan (di akhirat).
Akhirnya, mereka menjadi hina, binasa, dan terkenal (keburukannya).”
Beliau mengatakan rahimahumallah pula,
“Barang siapa yang berlomba denganmu dalam hal agama, saingilah dia. Adapun orang yang menyaingimu dalam hal duniamu, lemparkanlah urusan dunia itu ke lehernya.”
Beliau mengatakan rahimahumallah pula,
“Apabila engkau melihat manusia menyaingimu dalam hal dunia, saingilah mereka dalam hal akhirat. Sungguh, dunia mereka akan hilang dan akhirat akan kekal.” (Mawa’izh al-Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)
admin
04.08
New Google SEO
Bandung, IndonesiaBeliau mengatakan rahimahumallah pula,
“Barang siapa yang berlomba denganmu dalam hal agama, saingilah dia. Adapun orang yang menyaingimu dalam hal duniamu, lemparkanlah urusan dunia itu ke lehernya.”
Beliau mengatakan rahimahumallah pula,
“Apabila engkau melihat manusia menyaingimu dalam hal dunia, saingilah mereka dalam hal akhirat. Sungguh, dunia mereka akan hilang dan akhirat akan kekal.” (Mawa’izh al-Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)
Sekilas terdengar biasa tapi bisa berbahaya .....
1. Saudara laki2nya bertanya saat kunjungan seminggu setelah ia melahirkan : " hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan ? " ... " tidak ada " jawabnya pendek ... saudara laki2 nya berkata lagi : " masa sih ... apa engkau tidak berharga disisinya ?? aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa " .... siang itu ... ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk dirumah ... keduanya lalu terlibat pertengkaran ... sebulan kemudian ... antara suami istri ini terjadi perceraian ... dari mana sumber masalah ??? kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki2 sang istri ....
2. Saat arisan seorang ibu bertanya : " rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ?? bukankah anak2 mu banyak ?? " ... rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya ... ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank .
3. Seorang teman bertanya : '' berapa gajimu sebulan kerja di toko si fulan ?? " ... ia menjawab : " 1 juta rupiah " ... " cuma 1 juta rupiah ... sedikit sekali ia menghargai keringatmu .. apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu ?? " ... sejak saat itu ia jadi membenci pekerjaannya .. ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko ... pemilik toko menolak dan mem PHK nya .... kini ia malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran ...
4. Seseorang bertanya pada kakek tua itu : " berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan ?? " ... si kakek menjawab : " sebulan sekali " .... yang bertanya menimpali : " wah keterlaluan sekali anak2 mu itu .. diusia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering " ... Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak2 nya ... ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya ....
Apa sebenarnya keuntungan yang kita dapat ketika bertanya seperti pertanyaan2 diatas ??? ... Jagalah diri dari mencampuri kehidupan orang lain ... mengecilkan dunia mereka ... menanamkan rasa tak rela pada apa yang mereka miliki .... mengkritisi penghasilan dan keluarga mereka ... dst dst .... kita akan menjadi agen kerusakan dimuka bumi dengan cara ini ... bila ada bom yang meledak cobalah intropeksi diri .... bisa jadi kitalah yang menyalakan sumbu nya ..... admin 07.43 New Google SEO Bandung, Indonesia
Bakti Seorang Anak Kepada Ibunya yang Memiliki Keterbelakangan Mental
Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy
Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya…
Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya…
Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut…
Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan :“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usiake ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit.
Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…
Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.
Pemuda itu menjawab :“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”
Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”Ia menjawab : “Aku”
Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”
Ia menjawab : “Aku suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkanpakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”
Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”
Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”
Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..
Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”
Ia menjawab : “Alhamdulillah,aku sudah beristri dan punya beberapa anak”
Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”
Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya,dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gulanya”
Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”
Ia menjawab : “Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya”
Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…
Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.
Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”
Ia menjawab : “Aku. Dokter, ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”
Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”
Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”
Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…sekarang!”
Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihatanak-anakku gembira…”
Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…
dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.Lalu aku bertanya lagi : “Apakah Anda punya saudara?”
Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”
Aku bertanya : “Jadi Anda dirawat ayah?”
Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”
Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda?”
Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihandia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”
Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…
Ia memegang tangan ibunya dan berkata : “Marikita ke kedai..”
Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja!”
Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…
Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah?”
Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”
Aku pun bertanya pada putranya : “
Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”
Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda…lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Makkah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi umrah tanpa membawanya”.
Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.
Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…
Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…
Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…
Aku berkata dalam diriku :
“Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…
Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…
Ibunya tidak pernah merawatnya…
Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…
Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…
Tidak pernah begadang malam…
Tidak pernah mengajarinya…
Tidak pernah sedih karenanya…
Tidak pernah menangis untuknya…
Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…
Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…
Tidak pernah….dan tidak pernah…!
Walaupun demikian…
pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu”.
Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat….seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental??? admin 07.38 New Google SEO Bandung, Indonesia
Untuk anak lelakiku..... Perjalanan terjauh dan terberat... Baca lebih lengkap
admin 00.46 New Google SEO Bandung, Indonesia
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Umminya.
Lalu bagaimana dengan Abi?
Mungkin karena Ummi lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Abi-lah yang mengingatkan Ummi untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ummi-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Abi bekerja dan dengan wajah lelah Abi selalu menanyakan pada Ummi tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……
Abi biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Abi mengganggapmu bisa, Abi akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Ummi bilang : “Jangan dulu Abi, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ummi takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Abi dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ummi menatapmu iba.
Tetapi Abi akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Abi melakukan itu karena Abi tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Abi yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ummi yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Abi benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Abi untuk dapat izin keluar malam, dan Abi bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Abi melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Abi, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Abi, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ummi….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Abi memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Abi sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
Dan kamu harus pergi belajar dikota lain…
Tahukah kamu bahwa badan Abi terasa kaku untuk memelukmu?
Abi hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Abi ingin sekali menangis seperti Ummi dan memelukmu erat-erat.
Yang Abi lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Abi melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Abi.
Abi pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Abi tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Abi adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Abi, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Abi belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Abi merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Sampai saat seseorang datang ke rumah dan meminta izin pada Abi untuk mengambilmu darinya.
Abi akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Abi tahu…..
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Abi melihatmu duduk bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Abi pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Abi pergi kebelakang sebentar, dan menangis?
Abi menangis karena Abi sangat berbahagia, kemudian Abi berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Rabb, Abi berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Abi hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Abi telah menyelesaikan tugasnya….
Abi, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
* * * *
Keterangan : Judul Asli “ Di Balik Kisah Seorang Papa” pada naskah aslinya kata Abi ditulis “Papa” dan kata Ummi ditulis “Mama”
Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2799887 dengan sedikit perubahan oleh dr.Abu Hana untuk http://kaahil.wordpress.com/ admin 07.39 New Google SEO Bandung, Indonesia
KUpersembahkan Bait-Bait Ini untuk Abi Tercinta
Posted by Rumah Dunia Maya on Rabu, 12 Februari 2014
Created by : dr. Mururul Aisyi, SpA
- Mulailah dg perasaan santai dan bahagia
- Berikanlah ASI sejak hari pertama, selingan susu botol menyebabkan produksi ASI terhambat dan bayi enggan mengisap payudara
- Mulailah menyusui dengan satu payudara selama 5 menit, kemudian berangsur bertambah lama dg satu atau dua payudara tergantung selera bayi dan produksi ASI anda
- Berikan ASI anda sebanyak bayi anda mau, jgn dijadwal. Setelah beberapa minggu, bayi anda dapat mengatur jadwalnya sendiri
- Buatlah bayi anda sendawa setelah minum ASi; ini diperlukan dalam bulan2 pertama. Setelah 6 bulan hal ini tdk diperlukan lagi
- Makanlah dg teratur dan dg nilai gizi yg baik. Jangan makan makanan yang pedas, asam atau menimbulkan gas
- Selama mendapat ASI tidak perlu penambahan vitamin atau mineral
- Jangan minum obat tanpa petunjuk dokter selama anda memberikan ASI
Sumber: Membina Tumbuh kembang Bayi dan Balita - Panduan untuk orang tua. Prof. DR.dr. Soedigdo Sastroasmoro, SpA (K) Badan Penerbit IDAI Jakarta 2007
Saya
menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya"
adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga. Saya tidak melihat
Anda."
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.
Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki
saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir
saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah.
Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, kata nurani seakan berbicara padaku :
"Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika
kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya
engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.
Coba lihat ke lantai
dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."
"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda,
kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan
kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya
yang basah saat itu."
Seketika aku merasa malu, dan sekarang
air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan
berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku.
"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, " Aku
menemukannya jatuh dari pohon. "
"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."
Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."
Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."
Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana
kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita
dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan
kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, kita
melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga
kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?
Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda
tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE,(Y)OU
Jangan biarkan kasih sayang kita terhadap suami/istri, juga anak-anak kita terkikis...
Tumbuhkanlah dan semakin perbanyaklah waktu untuk keluarga kita
(dicopas dari kumpulan #kisah_inspiratif)
admin
20.58
New Google SEO
Bandung, Indonesia“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum pria) di atas sebagian yang lain (kaum wanita) dan disebabkan kaum pria telah membelanjakan sebagian dari harta mereka…” (An-Nisa: 34)
Demikian indahnya tuturan kalam Ilahi di atas menetapkan tatanan hidup yang pasti mengantarkan kepada kebahagiaan. Namun manusia yang durjana ingin mengubah keindahan tatanan tersebut. Akibatnya musibah datang silih berganti dan malapetaka semakin meluas. Wanita yang seharusnya tunduk di bawah kepemimpinan pria menjadi sebaliknya, ia yang memimpin. Padahal Rasul yang mulia r jauh sebelumnya telah berpesan dalam sabdanya yang agung :
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.” (Shahih, HR. Al-Al-Bukhari no. 4425)
Pembaca yang mulia…
Kita tahu setiap rumah tangga butuh seorang pemimpin untuk mengatur keperluan rumah tersebut berikut penghuninya dan ia bertanggung jawab atas seluruh penghuni rumah. Karena begitu besar perannya maka ia harus didengar dan ditaati selama tidak memerintahkan maksiat kepada Allah I. Dan dengan hikmah-Nya yang agung, Allah I memilih pria untuk menjadi pemimpin tersebut!
“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita…” (An-Nisa: 34)
Al-Imam Ath-Thabari t berkata menafsirkan ayat di atas: “Kaum pria merupakan pemimpin bagi para wanita dalam mendidik dan membimbing mereka untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah dan kepada suami-suami mereka. Karena Allah telah melebihkan kaum pria di atas istri-istri mereka dalam hal pemberian mahar dan infak (belanja) dari harta mereka guna mencukupi kebutuhan keluarga. Hal itu merupakan keutamaan Allah tabaraka wa ta’ala kepada kaum pria hingga pantaslah mereka menjadi pemimpin kaum wanita…”
Kemudian Al-Imam Ath-Thabari t menukilkan tafsiran Ibnu ‘Abbas c terhadap ayat di atas: “Pria (suami) merupakan pemimpin wanita (istri) agar wanita itu menaatinya dalam perkara yang Allah perintahkan dan menaatinya dengan berbuat baik kepada keluarganya dan menjaga hartanya. Bila si istri enggan untuk taat kepada Allah, boleh bagi suami untuk memukulnya dengan pukulan yang tidak memberi cacat…”
Ibnu ‘Abbas c juga menyatakan bahwa pria lebih utama dari wanita dengan nafkah yang diberikannya dan usahanya. (Lihat Tafsir Ath-Thabari, 5/57-58)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di t berkata setelah membawakan ayat ini dalam tafsir beliau: “Pria memimpin wanita dengan mengharuskan mereka menunaikan hak-hak Allah I seperti menjaga apa yang diwajibkan Allah dan mencegah mereka dari kerusakan. Mereka juga memimpin kaum wanita dengan memberi belanja/nafkah, memberi pakaian dan tempat tinggal.” (Taisir Al-Karimir Rahman fi Tafsir Al-Kalamin Mannan hal. 177)
Dari ayat Allah I yang telah lewat, dapatlah dipahami bahwa pria dijadikan pemimpin bagi wanita karena dua perkara:
Pertama, Allah telah melebihkan pria atas wanita dari berbagai sisi di antaranya pria secara khusus diberi wewenang untuk memimpin negara, sementara bila ada wanita yang memimpin negara maka ditujukan kepadanya sabda Nabi r:
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Demikian pula dalam masalah kenabian dan kerasulan, khusus diangkat dari kalangan pria sebagaimana firman-Nya:
“Tidaklah Kami mengutus rasul-rasul sebelummu (wahai Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.” (Al-Anbiya: 7)
Allah I mengkhususkan kaum pria dalam banyak ibadah seperti jihad, shalat Jum’at dan lainnya. Demikian pula Allah anugerahkan kepada mereka akal yang kuat, kesabaran dan keteguhan hati yang tidak dimiliki oleh wanita. (Taisir Al-Karimir Rahman fi Tafsir Al-Kalamin Mannan hal. 177)
Kedua, Allah membebankan kepada pria (suami) untuk menafkahi istrinya.
Ibnu Katsir t ketika menafsirkan firman Allah I:
“…dan disebabkan kaum pria telah membelanjakan sebagian dari harta mereka…” (An-Nisa: 34)
Beliau menyatakan: (Harta yang mereka belanjakan) berupa mahar, nafkah dan tanggungan yang Allah wajibkan pada mereka seperti yang tersebut dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya r. Maka pria lebih utama dari wanita dan ia memiliki kelebihan dan keunggulan di atas wanita karena itu ia pantas menjadi pemimpin bagi wanita sebagaimana Allah I berfirman:
“Para suami memiliki kelebihan satu tingkatan di atas para istri.” (Al-Baqarah: 228)
Ketika menafsirkan ayat di atas, beliau t menyatakan: “Para suami memiliki kelebihan satu tingkatan di atas para istri yaitu dalam keutamaan, dalam penciptaan, tabiat, kedudukan, keharusan menaati perintahnya (yakni istri harus taat kepada suaminya selama tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah I), dalam memberikan infak/belanja…” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/278)
Nabi r dalam sabda-sabdanya juga banyak menyinggung kelebihan pria atau suami dibanding wanita. Di antaranya bisa kita baca berikut ini:
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. At-Tirmidzi, dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 926: hasan shahih)
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri dapat menunaikan hak Rabbnya hingga ia menunaikan hak suaminya seluruhnya. Sampai-sampai seandainya suaminya meminta dirinya (mengajaknya bersenggama) sementara dia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) dia tidak boleh menolaknya.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5295 dan Irwa`ul Ghalil no. 1998)
Istri yang menolak ajakan senggama dari suaminya diancam oleh Rasulullah r dengan sabda beliau:
“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5193 dan Muslim no.1436)
Dalam riwayat Muslim (no. 1436):
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha padanya.”
Nabi r bersabda ketika ditanya kriteria istri yang baik:
“Istri yang menyenangkan ketika dipandang oleh suaminya, taat kepada suaminya ketika diperintah dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara yang tidak disukai suaminya baik dalam dirinya maupun harta suaminya.” (HR. Ahmad. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihul Jami’ no. 3398, Al-Misykat no. 3272 dan Ash-Shahihah no. 1838)
Seorang istri tidak diperkenankan puasa sunnah ketika suaminya berada di rumah kecuali setelah mendapat izin darinya, sebagaimana sabda Nabi r:
“Tidak boleh seorang istri puasa sunnah sementara suaminya ada di rumah kecuali setelah mendapat izin dari suaminya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)
Seorang istri diperkenankan keluar rumah untuk shalat di masjid bila telah mendapatkan izin suaminya. Nabi r menuntunkan:
“Apabila istri salah seorang dari kalian minta izin ke masjid maka janganlah ia melarangnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5238 dan Muslim no. 442)
Dari beberapa dalil yang telah disebutkan jelaslah bagaimana tingginya kedudukan seorang suami. Semua itu menunjukkan bahwa suamilah yang berhak memimpin keluarganya. Dialah yang pantas sebagai nahkoda bagi sebuah bahtera yang ingin pelayarannya berakhir dengan selamat ke tempat tujuan. Inilah pembagian Allah I yang Maha Adil, maka tidak pantas seorang hamba yang menaati-Nya untuk memprotes ketetapan-Nya. Bukankah Dia Yang Maha Tinggi telah berfirman:
“Dan janganlah kalian iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak daripada sebagian yang lain. (Karena) bagi kaum pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi kaum wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Karena itu mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa: 32)
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Al-Atsariyyah) admin 00.14 New Google SEO Bandung, Indonesia














